Persamuhan Pembakti Kampung: Ngomongin Pancasila, Ngomongin Nusantara


Kilometer Nol Anyer Panurukan, Kembali Sejarah Kami Buat Untuk Nusantara

Pagi itu 26 oktober 2019, dari Tembung daerah pinggiran Kota Medan perjalanan kita di mulai menuju Bandara International Kualanamu yang berjarak sekitar 20 menit.

Sangat senang kali hari ini bisa berangkat untuk ikut Persamuhan Pembakti Kampung. Persamuhan Nasional Pembakti Kampung 2019 ini yang diadakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Anyer Banten pada 26-30 Oktober 2019.

Acara ini benar2 mengumpulkan Nusantara, mengumpulkan para pembakti kampung dari seluruh pelosok Nusantara di satu tempat dan Pancasila sebagai pemersatunya

Bicara kampung adalah bicara lokalitas. Bicara corak khusus, karakter, kecendeungan, dan subkultur yang khas. Bicara kampung adalah bicara problematika masyarakat dan lingkungannya dalam lingkup sosial yang kecil dan terbatas. Tetapi justru di sinilah titik tempat semua problem sosial dan kultural berasal dan berakar. Efeknya bisa ke mana-mana, ke ranah-ranah sosial yang jauh lebih luas dan besar. Keberhasilan kita dalam mengatasi atau memecahkan persoalan-persoalan itu menjadi tolok ukur (dan sumbangsih) keberhasilan kita dalam memecahkan persoalan bangsa. (Catatan #1 Paska Persamuhan Pembakti Kampung 2019)  Oleh: Akmad Bustanul Arif * 

Saling Silang Ide Kebangsaan antar Pembakti Kampung
Baru kali ini ikutan kegiatan dan ketika membuka kamera dan handphone tak banyak photo dan video kegiatan yang terabadikan camera.
.
Padahal sebelum berangkat udah gosongin memory camera dan ngecas full baterai tapi apa daya 5 hari ini benar2 menikmati sekali suasana dan orang2 baru disekitar. ada 300 orang lebih dari 34 propinsi yang bisa kita ajak berbagi informasi,
.
Ya karena 5 hari tak cukup, walaupun semua dari 34 propinsi ada hadir berkumpul tapi waktu untuk saling silang informasi daerah yang bagi admin sangat menarik ini

benar2 kurang kali. bahkan setalah jam kegiatan kita masih terus ngumpul hingga malam di kede kopi depan hotel. bahkan admin masih kumpul di pinggir pantai saling silang info tentang "Teknoligi Nusantara" hingga pagi menjelang.
.
Nah ini lagi kalo bahas "Teknologi Nusantara" bikin kagum dimana teknologi orang tua kita lebih canggih ternyata dari Teknologi yang di ciptakan dari Barat sana. Hinga pagi menjelang, mata masih melek dan kuping.
.
Penampilan Drummer Gilang Ramadhan di Mercusuar Cikoneng, Anyer

Lalu apa hubungannya ngomongin Pancasila dengan ngomongin Nusantara? dan kenapa kita pembakti kampung dari 34 propinsi dikumpulkan disini ??

Dari Desa Untuk Indonesia, 34 Propinsi hadir diruangan ini

Meja Makan Nusantara, Ada Cerita dan Saudara Baru di Persamuhan Pembakti Kampung

Sarapan, Makan Siang dan Makan Malam adalah waktu dimana ada Cerita Baru yang akan siap di dengar. Ntah kenapa bagian ini adalah hal paling berkesan bagi taukotembung.

ketemu saudara "Wong Kito" di meja makan
Bayangkan aja diacara ini, taukotembung seorang diri berangkat dari medan. tak ada kawan, tak ada yang kenal, serasa di kepung orang kampung dari daerah lainnya.
.
Tapi yang namanya anak medan itu bisa masuk kemana aja, jadilah sehabis mengambil berbagai jenis makanan ke dalam piring lalu kita duduk gabung di berbagai meja dengan pembakti kampung lainya, berkenalan lalu makan sambil bercerita.
.
Semeja dengan orang kaltim, ada cerita Calon Ibu Kota Baru dan kejamnya Pertambangan di Kalimantan Timur.
.
Semeja orang NTB, cerita tentang keindahan alam dari pantai hingga gunungnya serta budayanya dimana admin pernah 2 bulan belusukan di Pulau lombok.
.
Semeja dengan orang papua yang sehabis makan gak lengkap katanya kalo gak nyirih, cerita tentang apa yang terjadi di papua sebenarnya karena si kakak dari Univ Cendrawasih yang kemarin sempat ada insiden.
.
Upacara Sumpah Pemuda 34 Propinsi
Semeja dengan orang jawa timur, yang ternyata walau satu propinsi di jawa timur tapi punya budaya yang sangat banyak akibat gunung-gunung yang menjadikan tiap daerah terpisah. bercerita dari zaman wali songo, hingga zaman penjajahan dimana orang malang menggunakan kata2 terbalik untuk jadi kode rahasia agar penjajah tak tau mereka lagi ngomongin apa.
.
Semeja dengan orang Sulawesi, dan penasaran ampe sekarang mengenai Keturunan Bissu dimana mereka merupakan perantara antara langit dan bumi.

Bahkan Ketemu Saudara sesama "Wong Kito". Bercerita Tentang Kampung Galpin pasar Kuto yang kini telah berganti menjadi Jembatan Musi IV hingga menelusuri Keturunan Keluarga Gumay di Lahat. Oia walaupun admin berangkat dari Medan, tetapi admin asli kelahiran Palembang dan keturunan Jurai Gumay Talang yang asalnya dari Lahat.
.
Semeja sama orang maluku, NTT, Riau, banyaklah cerita kita di meja makan itu. cerita yang tak akan didapat di dalam ruangan dan bagian meja makan ini jadi tempat kita bisa mengenal nusantara, mengenalkan daerah kita dan mengenali daerah lain dan Nusantara itu sangat luar biasa dengan segala ceritanya.

Persamuhan Pertama Yang diadakan BPIP

Rampak Bedug  di Mercusuar Cikoneng, Anyer